Thursday, October 20, 2016

Pilihlah jalanmu sendiri.

KISAH MISTERI MENCEKAM

          Kamu adalah tokoh utama dalam cerita ini. Keputusan yang kaupilih menentukan apa yang akan terjadi.


     Dan dapatkan beberapa hal aneh yang nggak bakalan bisa kamu duga ..  Semua yang akan terjadi adalah karena pilihanmu sendiri,   karena itu , berpikirlah dahulu sebelum memutuskan sesuatu.

     Saat ini kamu sedang merayakan kelulusan dari SMA , kamu dan teman temanmu punya rencana untuk kemah di gunung Kawi,, hari kamis rencananya kalian mau berangkat , Kamu cukup senang dengan ide temen2mu karena ini pertama kalinya kamu akan berkemah di  gunung , dan menurutmu itu sangat seru.
         Hari itupun tiba , kamu segera bersiap2 dan membawa beberapa barang yang nantinya kamu butuhkan, dan sesegera mungkin kamu berangkat , kayaknya kamu telat karena semua temenmu telah berkumpul dan menunggumu .
       “Hei gimana siih ? kita dari tadi menunggumu”kata intan salah seorang temenmu.
      “maaf deh,  udah buat kalian menunggu” Jawabmu
         Sekarang kalian dalam perjalanan di dengan sangat menggembirakan. Dan ketika telah sampai di suatu desa di lereng kaki gunung tersebut , kalian pun turun dari bus.
          Kalian kini sampai di sebuah pedesaan yang sangat jauh dari peradaban kota , desa yang tampak sepi dan jarak rumah2 yang berjauhan  satu sama lain.
       evening_forest_by_doko_stock
Kalian berhenti pada suatu jalan menuju perbukitan.
       Kalian kemudian memasuki perkampungan yang saat itu terlihat sangat sepi ..  Hanya ada beberapa rumah yg letaknya sangat renggang berjauhan.
        Jarak yang kalian tempuh lumayan jauh hingga kalian merasa lelah.
       Akhirnya kalian sampai di sebuah jalan menuju arah puncak. Sayangnya hari sudah memasuki sore hari.
         Bagi kalian  tak mungkin melanjutkan perjalanan ke puncak sebab waktu sebentar lagi malam.
           Hingga Akhirnya kalian sepakat untuk berkemah di sebuah rerimbunan di lereng yang gak begitu jauh dari tempat kalian, dan untuk melanjutkan menuju ke puncaknya akan di laksanakan besok pagi.
       Kalian melanjutkan berjalanan kearah tempat tersebut.
       Sekitar jam lima sore dan terus berjalan. Kalian bertemu salah seorang penduduk, ia memakai blangkon dan pakaian batik kuno sepertinya ia paranormal atau bahasa jawanya dukun.
         Dia menyapa dan memberhentikan kalian, Mengaku bernama pak ngatemun
     “Kalian dari mana dan mau kemana nak..” tanya pak ngatemun kepada kalian.
       “Kami lulusan tahun ini pak, dan rencananya kami mau berkemah di puncak, tapi karna waktu sudah hampir malam rencananya kami mau berkemah di sana , dan besok mulai melanjutkan perjalan ke puncak..” Lugman ketua rombongan kalian menjelaskan.
       “Kalo saya menyarankan jangan nak , mending kalian ikut saya aja ke rumah soalnya tempat itu berbahaya bagi kalian..” Jawab pak ngatemun memperingatkan kalian
        “Maaf pak.., sesuai rencana kita harus kesana, dan kita sekarang gak punya banyak waktu ” Jawab lukman
        “ Kalian sulit di kasih tau, di sana itu tempat orang mencari tumbal pesugihan , mendingan kalian gak usah ke sana…!! “ Orang itu sambil melotot.
          Mendengar ucapan pak ngatemun membuat kalian bingung, rombongan jadi kacau , sebagian anak percaya pak ngatemun dan ikut ke rumahnya ,dan sebagian lagi malah curiga sama pak ngatemun karna gayanya seperti dukun dan sempat melotot, terlihat sangat memaksa kerumahnya.
          Akhirnya rombongan terpaksa harus terpisah dua kelompok, Lugman, Intan, Febriana , Pardil, dan beberapa temanmu yang lain tetap melanjutkan perjalanannya .        Sedangkan Budi, Lidya, Ani , dan beberapa yang lainnya percaya kepada Pak Ngatemun. Dan mereka bersedia untuk menginap di rumahnya.
        sekarang tentukan pilihanmu.
        Jika kau percaya kepada dukun itu , dan bersedia menginap di rumahnya , maka klik link http://pilihjalanmusendiri.blogspot.co.id/2016/10/menginap-di-rumah-eyang-ngatemun-kau.html

      Jika kau ingin melanjutkan perjalanan dan berkemah di hutan , maka klik  http://pilihjalanmusendiri.blogspot.co.id/2016/10/berkemah-di-hutan-larangan-kau-merasa.html
BERKEMAH DI HUTAN LARANGAN

Kau merasa , orang ini tidak simpatik , dan sikapnya tidak menyenangkan ,  Karena itu, kaupun berpikir , lebih baik meneruskan perjalanan dengan Intan dkk.  Daripada menerima tawaran dari orang yang belum kalian kenal.
Lukman dan Pardil terus berdebat dengan Lidya dkk. Yang ingin menginap dirumah Pak Ngatemun.  Sementara Intan dan Febri terus berjalan tanpa menghiraukan perdebatan itu.  Akhirnya rombongan pun berpisah.
Setelah berjalan cukup jauh , kaulihat Lidya melambaikan tangannya kepada kalian,
“hati hati yaa disanaaa“  teriaknya
“iyaa … kalian juga yaaa “   seru Intan dari sini.
Kalian berjalan cukup lama ,  sekitar seperempat jam lebih , kalian dapati suatu areal rumput yg cukup nyaman untuk didirikan tenda. Akhirnya diputuskanlah untuk membuat tenda disini.
Setelah semua ditata dengan rapih , kau menyalakan korek untuk membuat api unggun. Dan meletakkan sebuah panci diatasnya untuk memasak air.  Yah, menyeduh kopi yg cukup panas untuk mengusir rasa dingin. Sambil membuka bungkusan makanan bekal yg kalian bawa dari rumah.
Kalian semua duduk melingkar mengelilingi api unggun, sambil bernyanyi nyanyi riang dan mengobrol.   Pardil membawa gitar , menggenjreng gitarnya dengan bersemangat mengiringi lagu lagu yang kalian nyanyikan.
Hari sudah menjelang malam ,  kauambil wudhu dengan air jerigen , kemudian menuju tenda untuk shalat Maghrib ,  bergantian dengan beberapa temanmu yg lain. Setelah itu kembali ke kumpulan anak anak didekat api unggun.
Sepertinya ada sesuatu yang janggal ,  ketika teman temanmu bernyanyi.  Kau masih belum memahaminya , tapi coba kau perhatikan dengan seksama.
Seperti gaung ,  ada suara aneh yang menirukan lagu lagu ini. Tapi tidak ada yang menyadarinya.
“in … kamu denger nggak ?  ada yang menirukan suara kita “
“hmm… masak sih ? “ ujar intan heran
“coba jangan ikut nyanyi,  dengerin baik baik “ saranmu.
Ternyata benar. Ada sesuatu yang aneh disini.  Intan meminta Febri mendengarkan , dan ternyata memang iya .  Beberapa temanmu tampak tercekam saat kalian jelaskan apa yang terjadi.
Tiba tiba Lidya datang bersama Doni, dengan terengah engah dan terburu buru,   kemudian mereka menceritakan tentang apa yang telah terjadi di rumah Pak Ngatemun.  Tentang Budi yang kesurupan dan kekhawatiran pada kata kata Budi tentang hal hal yang sangat menakutkan.
Lidya mengajak kalian menyusul mereka dan membawa semuanya kesini.
Hampir semuanya ingin berangkat kesana , tapi beberapa mengusulkan agar ada yang menjaga tenda ini.
Tanpa menunjukkan kesan capek , Lidya mengajak kalian segera berangkat,  maka Intan meminta agar ada yang menemani dia menjaga tenda. Hampir semuanya menolak , karena setelah tahu apa yang terjadi barusan, mereka semua merasa lebih aman jika jalan bersama sama dengan teman yg banyak , daripada tetap disini.  Hanya Pardil yang tampaknya bersedia menemani intan berjaga.
     sekarang kamu harus memutuskan,
    jika kau ingin tetap disini menjaga tenda , maka klik link  ..  http://pilihjalanmusendiri.blogspot.co.id/2016/10/sosok-hitam-diluar-tenda-sebenarnya.html
     ....
     jika kau ingin beramai ramai mendatangi rumah dukun itu, maka klik  ...  http://pilihjalanmusendiri.blogspot.co.id/2016/10/siapa-ini-kalian-berjalan-ramai-ramai.html
                  SIAPA INI ?

Kalian berjalan ramai ramai , sambil bergurau dan teriak teriak di hutan ini , untuk menghilangkan rasa takut .   Lugman yang paling urakan , selalu menjahili kalian.
Sementara Lidia selalu mengingatkan , untuk tidak terus bergurau seperti ini di tengah hutan yang katanya angker ini.
“rasanya kita udah berjalan lama sekali Lid , kok belum nyampai juga ya ,   seingatku rumah itu deket kok, darisana ke tenda tadi sore kita cuma jalan kira kira seperempat jam” gumam Febri.
“ini sudah lebih dari satu jam “ Diah meneruskan.
“mungkin kita tersesat ya “  kau menduga.
Diah terduduk lemas di tanah.  Satu persatu yang lain juga. Semuanya sudah sangat capek . Jalan sejam lebih tanpa arah yg jelas.
“ini gara gara kamu Lid …. Sekarang kamu harus tanggung jawab , pokoknya ini semua salahmu  ! dasar perempuan bodoh , ceroboh ! ”  Sentak Supri kepada Lidya. Sambil marah marah , memaki maki.   Lidya pun menangis.
Tanpa bicara apapun, kaupun menghadiahi kepalan mentah ke bahu Supri, membuatnya terhuyung dan ambruk.
Supri bangkit dan mencoba membalas, pukulannya kautangkis dengan sigap,   lalu kemudian Lugman memisahkan kalian..
Sesaat kau sempat melihat Diah berjalan menjauhi kalian. Kaupun berlari menyusulnya ,  “mau kemana ? “  tanyamu.
Sikapnya aneh seperti terhipnotis.
“Si Pardil nunjukkin jalannya kepada kita. Ayo kita ikutin dia “ jelasnya.
“mana si pardil ? “ tanya Lidya yang juga mengikutimu.
“ituu “  tunjuk Diah sambal menunjukkan jarinya ke udara kosong.
Semakin kagetlah kalian ,  ada apa lagi ini ?  .
Kau terbaring putus asa.   Sekarang masalah bertambah. Tiba tiba tampak pardil berdiri dengan muka pucat , memandang kalian dengan pandangan kosong. Dan tersenyum dingin.
Itu pasti bukan Pardil .   Siapa dia ????
“melok o aku ,   iki dalan e “  kata Pardil dengan bahasa jawa kental.   (ikutlah aku,   ini jalannya).    Kemudian diapun berjalan sangat cepat melalui semak…….
  

            sosok hitam diluar tenda

        Sebenarnya, kamu merasa sangat nggak nyaman dengan keadaan disini,  dan berpikir, mungkin lebih baik ikut bersama teman temanmu menyusul Budi dkk. Di rumah rumah pak Ngatemun.  Karena jumlah mereka jauh lebih banyak , dan kamupun merasa lebih aman dalam gerombolan.  14 anak termasuk Lidya, Lukman, Febriana, dan banyak lagi yg lainnya.
        Tapi kamu sudah mengambil keputusan. Yaitu untuk menjaga tenda ini. Menemani Pardil dan Intan . Kamu nggak tega jika mereka hanya berdua saja disini. Bagaimana jika terjadi apa apa pada mereka.
Dan ada juga yg sebenarnya kamu pun malu untuk mengakuinya,  yaitu… kamu merasa cemburu ,dan curiga, jika di tempat sesepi dan segelap ini cowok dan cewek seperti Pardil dan Intan hanya berdua saja. Ah, cemburu lagi…, cinta lagi.   Kau berusaha untuk menepis pemikiran itu.
“kalo ada apa apa, sms aja ya… “ kata Lukman.
“oke…” jawab intan singkat.
“ayo, kita cepetan deh, soalnya gue sudah kuatir banget ama keadaan si Budi,  soalnya tadi dia udah parah banget kesurupannya” kata lidya dengan cemas.
“bukannya gitu, Lid.… u kan nggak tau, apa yg terjadi disini tadi”  kamu menjelaskan..
“udah deh,   lu ngomong apa sih ?? , bisik Intan kepadamu. “Enggak kok lid… nggak ada apa apa kok..  kalian jangan lama lama ya,  ajak semua yg disana kesini ,  nggak perlu jelasin ke dukun itu. “  lanjutnya.. berkata kepada Lidya.
“iya , kalo dukun itu masih maksa,   hajar aja rame rame “ tegas pardil,  dan disambut gelak tawa semuanya.
“huss… jangan main kasar ah “ Intan memperingatkan.
Mereka pun segera beranjak ,  tinggal disini kamu, Intan , dan Pardil bertiga.
“yhaaa , Cuma tinggal kita bertiga”   gumam Pardil.
“kalo aku, kamu, dan Intan, itu disebut bertiga,   kalo Cuma kamu dan Intan ,  itu berdua…  Nah ,  kalo Cuma aku aja ,  itu disebut apa hayoo?  “ tanya mu kepada pardil.
“mmm…”  gumam pardil sambal mikir.
“Bersatu “    tegasmu singkat.
“hahaha ,”  Intan tertawa terkekeh,   “ yha, , kami sih maklum aja , kan memang nilai Bahasa Indonesia mu paling jeblok “  lanjutnya,  meledekmu.
“Bersatu kita teguh ,  bercerai kita runtuh ,  makanya , nanti kalo kita udah nikah , jangan pernah minta cerai ya …hehehe “  cerocosmu.
Intan merengut ,  begitu juga pardil , Sepertinya mereka kurang senang dengan candaanmu.   Tapi siapa peduli , kamu jauh lebih khawatir dengan keadaan si Budi yg katanya kesurupan itu. Semoga Lidya dkk berhasil menyelamatkan mereka dari dukun aneh itu.
Setelah itu kalian pun masuk kedalam tenda ,  melanjutkan obrolan sambil minum kopi jahe ,   lumayan menghangatkan di angin malam yg suangat duingin ini.   Pardil kemudian mengambil sebatang rokok dari sakunya ,  menyulutnya dengan korek kayu.”
         Baru saja sekali Pardil menghisapnya ,  Intan merebut rokok itu dari mulutnya. “lu ngapain sih ? ini pencemaran lingkungan tau !   ngerokok didalam ruang sempit kayak gini ! “  dengusnya marah. Kemudian melempar rokok itu keluar tenda.
        “kamu gimana sih in ?  nanti kalo kebakaran gimana ??” teriakmu,  kemudian kamu pun beranjak keluar dan mencari cari punting itu ..  “dimana kamu buang tadi in ?  rokoknya masih nyala lho “
Kamu pun mencari cari punting tersebut , di semak semak dekat tenda..  Akhirnya ketemu juga , kamu pun menginjaknya , agar punting itu padam.
Di pohon didepanmu , kamu melihat sesosok bayangan hitam yang sangat jelas,   bersembunyi dibaliknya.
       Kau sangat kaget dan dicekam ketakutan yang nggak bisa dijelaskan ,  tanganmu gemetaran. Keringat dingin bercucuran di kedua belah dahimu.
        Intan ternyata juga keluar dari tenda , dan kini ada disebelahmu,  dia hendak berkata sesuatu , namun kau segera menyuruhnya diam dengan isyarat.
“in … lihat nggak,  ada orang dibalik pohon itu”   bisikmu lirih di telinganya.
Intan mengikuti arah pandanganmu, dan dia pun sangat kaget.
“iii…ii…. iiyaaa “   ucapnya gagap.
“apa yg harus kita lakukan niih ?? “  tanya mu.
“ki …kita masuk aja dulu. Kasih tahu pardil , “ kata intan.
        Setelah itu kalian pun masuk kedalam tenda , memberi tahu pardil tentang apa yg terjadi…pardil yang tak percaya pada ucapan kalian ,  langsung keluar untuk mencari sosok itu. Beberapa saat kemudian iapun kembali.
“hiiiihhh,…..  bener kata kalian ,  aku tadi lihat sesuatu yg hitam gede buanget..
“trus , apa yg harus kita lakukan sekarang ? “ tanyamu.
“ kita susul temen temen , , lewat jalan setapak , aku inget kok jalannya….aku nggak mau disini….    disini memang ada hantunyaaa”  kata pardil ketakutan..
“kita kan harus jaga tenda ini ,  apapun yg terjadi,  kita harus tetep disini   !! “    tegas intan.
Pardil tidak mempedulikannya ,  Dia pun segera keluar tenda dan pergi secepatnya dengan berlari. ,  meninggalkan kalian disini , karena sudah terlanjur panik.
“kenapa sih dia ?  “  tanyamu heran.
“nggak tau lah… aku kuatir dia kenapa kenapa,  susul dia deh ,   “ jelas intan.
“salah sendiri nggak ngajak ngajak “  ucapmu sinis
“tapi dia sendirian , kalo ada apa2 gimana ,?  dia Cuma sendirian di jalan hutan yg gelap ,  nggak bawa senter , nggak bawa apa apa  .susulin dia ,   biar tendanya aku yg jaga..“  kata Intan,
“haahh ?  kamu minta aku ninggalin kamu sendirian disini ? padahal barusan kita sama sama lihat ada apa disitu tadi ?,   jangan gila In …. Lagian kenapa sih kamu kuatirin si Pardil ?    bukannya jelas2 dia yg ninggalin kita ? …Dia sama sekali nggak mengkhawatirkan kita ,, tau  !! “  tegasmu kepada intan.
Intan tidak berkata apa apa .  Hanya menangis , karena saking takutnya , dan nggak tahu harus berbuat apa.
       Kamu harus memutuskan sekarang , menyusul Pardil , atau menemani Intan.   Pardil berlari ditengah hutan sendirian , pasti dan sudah pasti , sesuatu yg buruk bisa terjadi padanya. Kamu juga teringat , disaat kamu sedang punya masalah atau berantem, pardil lah yg selalu ngebela kamu.    , kamu merasa berhutang padanya.   Kamu merasa harus selamatin dia … Lagian ,disini di dekat kalian jelas jelas ada hantu diluar tenda …
         Sementara , Intan hanya menangis di tenda ini, dan kamu pun nggak tega untuk ninggalin dia sendirian. Kamu berusaha memaksanya untuk ikut menyusul Pardil ,  tapi dia tetap bersikokoh, karena tugas untuk menjaga ini . Disamping itu , dia terlalu takut untuk berlarian di hutan malam malam. Walaupun dia tahu, ada sosok aneh diluar.  Karena itu dia menangis kebingungan.
         jika kau ingin menyusul pardil ,  maka klik ...  http://pilihjalanmusendiri.blogspot.co.id/2016/10/kehilangan-jejak-in-mumpung-pardil.html
         jika kau ingin menjaga intan disini ,  maka klik .....   http://pilihjalanmusendiri.blogspot.co.id/2016/10/kembali-dengan-keanehan-kaupun-tetap.html


          KEHILANGAN JEJAK


“in , mumpung pardil belum jauh , aku susul dia ya ,  nanti aku paksa dia balik kesini.  Aku janji deh … kalo dalam sepuluh menit aku belum ketemu dia, aku balik aja langsung sendiri..  yang penting kita udah berusaha “   usulmu kepada Intan.
“iyadeh , tapi jangan lama lama ya ….  Dan janji , sebelum sepuluh menit , kamu udah harus ada disini “ jawab Intan.
Setelah menyambar senter , Kamu pun segera beranjak keluar dan lari secepatnya menyusul Pardil. Menyusuri jalan setapak dengan hati hati . Sambil terus berteriak memanggilnya.
“diiiil …. Diiil “
Nggak ada sahutan.
Cukup lama kau berjalan. Dan rasanya sudah menyerah nih , biarin deh .  Mudah mudahan aja dia bisa sampe ke rumahnya dukun itu ,  atau seenggaknya ketemu dengan temen temen disana .   Lagian , salahnya sendiri kan …  tiba tiba langsung lari ninggalin temen temennya di tenda.
Dan ini sudah lebih dari sepuluh menit , kau berjanji kepada Intan untuk balik. Kamu pun segera balik arah untuk kembali ke tenda. Sialnya, sentermu padam.  Jalan setapak ini sangat sulit dicari tanpa penerangan,   karena banyaknya rimbunan semak dan rumput liar yg setinggi lutut.
Kau sadar , nggak mungkin bisa kembali ke tenda. Sekarang sendirian tersesat di hutan gelap ini. Kau terjebak , dan putus asa rasanya. Dalam hatimu kau benar benar menyalahkan si Pardil. Dan mengkhawatirkan Intan.
Kaucoba menghubungi nomer telpon Intan, sialnya , pulsamu habis. Kau benar2 kebingungan kali ini. Maka kini kaupun coba hubungi nomor darurat. Berhasil, kau menjelaskan masalahmu dan tim penolong akan bersiap untuk berangkat kesini, namun harus menunggu berapa jam lagi ? mereka kan dari pusat kota, berapa lama perjalanan kesini dan berapa lama mereka mencari ?
Saat kauperhatikan rimbunan di depanmu yg lebat dan gelap, kau penasaran karena seperti ada suatu gua. Kausenteri dengan hape mu,   ada pintu masuk yang cukup lebar.
Kaupun merasa penasaran , dan ingin tahu ada apa didalam gua itu.

             KEMBALI DENGAN KEANEHAN


Kaupun tetap tinggal di tenda ini.  Biarin ajalah si pardil kabur. Kamu lebih nggak tega kepada Intan, yang masih terisak karena saking bingungnya.
“Kita tunggu ajah temen temen yg lain ,  kalau mereka udah balik kesini semua,  kita cariin bareng bareng” jelasmu.
Suasana hening. Nggak ada apapun untuk dikatakan. Sesekali kauintip keluar tenda , memperhatikan arah pohon tempat bayangan itu tadi. Sepertinya sudah nggak tampak sosok aneh itu. Semuanya aman aman saja.
Kau mulai mengajak Intan ngobrol ,  membicarakan hal hal konyol yg nggak penting,  mengalihkan perhatiannya dari memikirkan hal hal dramatis mencekam yang kalian alami.
Diam diam , kau mulai merasa nyaman dengan suasana ini. Dia sahabat yg sangat menyenangkan. Kau sadar , sampai kapanpun juga , saat saat ini nggak akan pernah terlupakan.
Diluar terdengar ada suara seseorang. Ada orang diluar. Maka dengan sigap kaupun keluar untuk menghampirinya. Tanpa rasa takut sedikitpun ,  karena kaupun sudah sangat jengkel dengan gangguan makhluk aneh ini.
Ternyata pardil ,  berarti dia balik .. sip lah.
“bagus dil , mendingan disini aja,  kami kuatir banget lho “ ujarmu.
Pardil nggak menjawab.  Cara berdirinya tampak sangat kaku. Wajahnya terlihat sangat pucat dan tanpa ekspresi. Kausenteri dia,  kauperhatikan ,  sikapnya aneh.
“Dil ?  ,”  panggil Intan.
“lu kenapa sih ?  “ selidikmu.
“melok o aku… “ (ikutlah denganku)   ,   pardil berkata dengan Bahasa jawa yang kental,  kemudian berbalik arah dan berjalan perlahan.  Kalian mengerti bahasa itu , yaitu ajakan untuk mengikuti dia.
Intan pun mengikutinya , tapi sebelum beberapa langkah , kauraih tangannya , kaugenggam erat dan menariknya untuk mundur.
“enggak …..  si pardil aneh ,   “ bisikmu
“lho ? berarti itu siapa , aku tau kok , mungkin dia kerasukan sesuatu , tapi kita harus ngajak kita balik ke tenda ini. Bagaimana jika dia kenapa kenapa ? “  intan ngotot.
“Dia bukan pardil ,  perhatikan kakinya ! “ tegasmu.
Kalian perhatikan kaki pardil yg sedang berjalan menjauhi kalian.  Kakinya tidak melangkah untuk berjalan ,   tapi , seperti mengawang …  Dan ,  kaki itu tidak bergerak , hanya melayang diatas tanah.
Intan rupanya sudah stress sekarang. Dia memelukmu , terisak dan menangis. Dia nggak tahu harus gimana lagi.
Kalian kembali ke tenda,  menunggu teman teman yg lain kembali.  Entah sampai kapan , kalian sama sekali nggak tahu

menginap di rumah eyang ngatemun



Kau sudah merasa terlalu capek untuk meneruskan perjalanan.  Karena itu mungkin nggak ada salahnya menginap di rumah orang ini. Apalagi katanya disana itu angker. Sedikit percaya , mungkin orang ini bisa melindungi kalian.
Maka kamu, Lidya , Ani ,Doni, Budi , dan sekitar 8 anak yg lainnya memutuskan menerima tawaran Pak Ngatemun,   setelah berdebat cukup sengit dengan Lukman dan Pardil , sebagai ketua kelas, yang ngotot meneruskan perjalanan. Karena merasa nggak percaya , bahkan sebagian curiga kepada Pak Ngatemun. Mereka diikuti oleh Febri, Intan , dan sekitar 10 yg lainnya.
Ketika mereka sudah tampak cukup jauh , kauperhatikan Febri melambaikan tangan kepada kalian ,
“hati hati yaa disanaa “  teriak Lidya
“iyaaa…. Kalian juga yaa “ jawab Intan dari seberang
Kemudian sampailah kalian disebuah rumah yang sangat besar, mungkin ini rumah vila peninggalan zaman belanda ,  yang ditinggali oleh pak ngatemun ini. Semakin menarik ketika masuk kedalamnya ,  banyak sekali benda benda keramat semacam keris, baju zirah prajurit, selendang, dsb. Ditaruh disekitar dinding.
“waahh…. Ini sih , sama aja kita wisata sejarah “ gumam Lidya
“kamu tertarik ya ?   kalo aku sih iya , sangat suka sejarah ..   Apalagi sejarah cinta kita berdua “  celetuk Doni.
“oke , kalo gitu catet yaa ,   tulis hari ini , tanggal ini , tahun ini, adalah hari bersejarah ,  putusnya ikatan cinta antara kita “    ujar Lidya ketus.
“itu fakta sejarah yang keliru “   sahut Doni cuek.    “cinta antara kita berdua akan abadi selamanya”  ujarnya percaya diri.
“tau ah , terserah kamu aja deh “ Lidya kesal sambil melengos dan berlalu.
Pak Ngatemun memberikan beberapa tikar yang lusuh dan kumal,  menyuruh kalian menggelarnya ,  dengan syarat , cowo dan cewe harus dipisah.
“maaf pak , tapi , kami udah bawa tikar sendiri kok “ tolak ani
“kalian harus pakai tikar dari aku,   yang sudah aku jampi mantra, agar makhluk makhluk halus tidak berani mengganggu kalian “ kata Pak Ngatemun.
“oh ya ?  apa disini banyak makhluk halus ? “  celetuk Lidya bernada meremehkan.
“kalian jangan panggil aku pak ,  panggil aku eyang ,  sebentar lagi malam,  aku harus persiapkan kemenyan dan sesaji agar tidak ada yang mengganggu kalian.   Sebagai pendatang , bersikaplah sopan “   nasehat eyang ngatemun serius.
Setelah itu ,  orang itupun berlalu.
Kalian ngobrol dengan santai hingga menjelang malam,  sambil minum kopi dan ngemil. Cukup nyaman suasana disini. Sayangnya, ketika hari sudah mulai gelap , nggak ada lampu . Hanya semacam damar cempluk (yakni semacam lilin yang menggunakan minyak) , Tentu saja suasananya menjadi sangat temaram remang remang. .Sangat sepi suasananya , tanpa lampu, tanpa tivi.
Saat jam kuno di dinding rumah Pak Ngatemun menunjukkan waktu pukul 10 malam , hanya tinggal kamu, Lidya , dan Ani yang masih ngobrol, sementara yang lainnya sudah pada tidur semua.   Si Doni asik berbincang bincang dengan Eyang Ngatemun di ruang tengah ,   sementara Si budi duduk sendirian melamun di pojok rumah ,  mungkin masih memikirkan sesuatu disebabkan putusnya hubungan dia dengan Febriana.
Tiba tiba Budi bertingkah aneh , dan berbicara nggak jelas.  Suaranya berubah seperti serak dan nggak wajar.  Tubuhnya mengejang, dan sorot matanya berubah menakutkan.
“Muun ….  Opo iki iwak kanggo akuuu , muun ? “ gumam budi  .(apakah ini daging untukku , muun ? )
Pak Ngatemun dengan sigap segera menghampirinya. Mempersiapkan banyak perlengkapan seperti kemenyan , dupa, sesaji , dsb.  Pak Ngatemun bilang , Si Budi kerasukan suatu makhluk jahat.
Kalian berempat diminta untuk menunggu diluar , sementara ritual dilakukan didalam.    Kalian menunggu dengan sangat cemas dan khawatir.
“dari bahasanya , seperti sedang meminta tumbal ,  aku jadi curiga dengan Pak Ngatemun , jangan jangan bersekongkol dengan makhluk itu “   duga Lidya berbisik,   sambil menguping ucapan Pak Ngatemun didalam.
“jangan gitu Lid ,  justru pak Ngatemun itu mau nolong kita kok. “ jawab Doni
“ah , sudahlah , pokoknya aku merasa ada yg nggak beres dirumah ini.  Aku mau lari ke kemah anak anak aja . Ayo siapa yg mau anterin ? “ ajak Lidya.
Doni dan Ani menggelengkan kepala , mungkin heran dengan kenekatan Lidya , malam malam gelap gini mau menerobos hutan kayak gini.
Sekarang Lidya menatapmu dalam dalam.
Sebenarnya kamu nggak curiga pada Pak Ngatemun , dan berusaha menjelaskan kalo mungkin ia orang baik . Namun Lidya dengan ngotot menolak semua penjelasanmu. Dan untuk membiarkan cewe seperti dia sendirian di hutan, tetap saja kamu nggak tega
     maka tentukan pilihanmu,
     jika kau mengantar Lidya kabur menuju tenda di hutan ,  maka klik ... http://pilihjalanmusendiri.blogspot.co.id/2016/10/kelapa-tertawa-kau-sangat-membenarkan.html
         ....
   tapi jika kau ingin tetap di teras rumah ini,  maka klik link ....    http://pilihjalanmusendiri.blogspot.co.id/2016/10/rumah-yang-mencekam-apa-yang-harus.html