Thursday, October 20, 2016


                             kelapa tertawa


     Kau sangat membenarkan kata-kata Lidya. Jelas sekali , Eyang ngatemun sepertinya tidak beres. Apalagi si Budi sering ngomong yg aneh-aneh dalam kesurupannya. Maka kamu pun bersedia untuk mengikuti ajakan Lidya, yaitu menyusul teman temanmu di tenda kemah.
     Kaupun segera masuk kedalam rumah. Pak Ngatemun menanyaimu  “kenapa masuk ,?  Sudah kubilang diluar saja”
     “anu , saya mau ngambil rokok buat merokok diluar ,” ucapmu sambil menyabet ranselmu.
     Si Budi terlihat semakin aneh. Dan menggeram nggak jelas.
     “gimana eyang ? apa temen kami segera sembuh ?” tanyamu.
    “sebentar lagi “ jawab dukun itu.
    “endi iwak ku muun ? “ kata budi dengan suara serak.
    Kau semakin tercekam dengan kata kata itu.  Itu bahasa Jawa yg cukup kau mengerti, yaitu meminta daging. Daging bisa berarti makanan. Makanan = sesaji. Persembahan .  Tumbal. Wadal.  Pikiranmu dengan keras memprediksi.
     Kau pun mempercepat langkah keluar rumah, sambil mengampluk ransel. Kemudian sesampainya diluar , menghampiri Lidya.
     “gimana lid ? “
     Tanpa menjawab , dengan hati hati dia berjalan menjauhi rumah . Eyang ngatemun masih sibuk dengan ritual menyembuhkan Budi. Jadi tidak tahu kaburnya kalian.
    Baru berjalan sekitar seratus meter , Kalian melihat beberapa buah kelapa berceceran disepanjang jalan setapak yg akan kalian lalui.  Didepan kalian hingga jauh keujung jalan yg Nampak.
     Banyak sekali kelapa ini. Siapa ya ? yang mengunduh kelapa malam malam gini ? ditaruh sembarangan di jalan lagi. Banyak sekali , ada puluhan di depan , menggelinding gelinding tak tentu arah.
    Saat kauperhatikan kelapa yg paling dekat , kau mendengar seperti ada suara terkekeh. Kaupun menyinarinya dengan sentermu.
    “hhiiiihiiihiiihhiikkhiik “
     Lidya gemetaran karena saking takutnya ,digenggamnya jemarimu sekuat dia meremasnya.
     “kenapa ? “ tanyamu heran
     Dan kauperhatikan baik baik ,  jelas sekali .  kelapa bulat itu yang tertawa.  Itu bukan kelapa.  Itu seperti kepala.  Kepala yang menggelundung tanpa badan.
     Kelapa itupun menggelinding cepat ke arah kalian.
     Lidya panik, tangannya menarikmu untuk berlari kembali ke arah rumah eyang Ngatemun.

   maka tentukanlah pilihanmu
   jika kau terus menerobos rimbunan hutan menuju tenda ,  maka klik link http://pilihjalanmusendiri.blogspot.co.id/2016/10/menerjang-hutan-gelap-kau-tarik-lengan.html
......
    tapi jika kau kembali ke rumah pak ngatemun untuk menghindari makhluk makhluk aneh itu, maka klik link .... http://pilihjalanmusendiri.blogspot.co.id/2016/10/marahnya-eyang-ngatemun-kalian-segera.html

No comments:

Post a Comment